Penguatan Kurikulum Lokal Papua Perkuat NKRI

Jakarta, Jurnalmedia.com – Pemerintah diharapkan segera mengubah kurikulum pendidikan dengan mengenalkan tokoh tokoh nasional asal Papua. Pengubahan kurikulum tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasa nasionalisme dan dan cinta tanah air masyarakat Papua terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Selama ini yang kita kenal adalah para pahlawan nasional kebanyakan dari daerah lain di Indonesia. Pahlawan yang berasal dari Papua nyaris tidak pernah menjadi perhatian pemerintah pusat,” jelas Wakil Direktur Pasca Sarjana Universitas Nasional Firsaus Syam dalam diskusi publik di Universtias Pancasila di Jakarta, Selasa (19/12).

Diskusi bertema “Peran generasi muda dalam menjunjung nasionalisme untuk meningkatkan rasa cinta terhadap NKRI”, dihadiri pembicara Dekan Fikom Universitas Pancasila Profesor Andi Faisal Bakti dan mahasiswa IPB asal Papua Ricardus Keiya.

Dia mwlanjutkan, janji janji politik pemerintah Joko Widodo terutama pengubahan revolusi mental terutama di Papua belum ditepati. Masih banyak warga Papua merasa tidak puas dengan pemerintah saat ini.

“Ketidakpuasan bisa dilihat masih adanya konflik, pemberontakan, penyanderaan,” kata Firdaus.

Dia berharap pemerintah jangan menunda-nunda pengucuran dana otonomi khusus Papua. Sebab jika ditunda akan menimbulkan ketidakpuasan pada masyrakat Papua. Pemerintah juga jangan memperlakukan masyarakat Papua seperti saudara tiri, padahal kekayaan alam Papua sangat luar biasa. .

Sementara Profesor Andi Faisal Bakti, pemerataan pembangunan yang tidak bagus menyebabkan sebagian warga Papua tidak puas dan memberontak. “Jangan sampai masyarakat Papua merasa terjajah. Bangunlah Papua untuk kemajuan Indonesia” ungkapnya

Papua Ricardus Keiya menuturkan, dua penyebab kemiskinan dan ketertinggalan masyarakat Papua di banding daerah lain diantaranya karena kebijakan struktur yaitu kebijakan pemerintah pusat.

Modernisasi yang dijalankan pemerintah membuat rakyat Papua menjadi miskin. Sebelum ada modernisasi kekayaan alam Papua sangat melimpah. “Membangun Papua jangan menggunakan kacamata Jakarta, tapi gunakanlah kacamata Papua,” pungkas Ricardus.

Mal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *