Saruyo: SKB Dipastikan Bebas Pungli

Lampung Utara, Jurnalmedia.com – Sanggar kegiatan belajar (SKB) merupakan tempat mengais ilmu dan tidak boleh dijadikan sebagai lahan mencari keuntungan pribadi (pungli.red) karna itu sangat menciderai marwah dunia pendidikan. Hal tersebut disampaikan Saroyo (55) kepala SKB kabupaten lampung utara senin (15/10/2018) kepada wartawan.

SKB adalah salah satu sektor pendidikan non formal. Dimana siswa / siswi yang dulu sempat putus sekolah, didrop out (DO) pihak sekolah akibat kenakalan dan lain sebagainya, mereka masih bisa melanjutkan jenjang pendidikan non formal melalui SKB seperti PAKET B, atau PAKET C, bahkan mereka juga bisa kursus secara geratis.

“SKB adalah wadah bagi murid yang ingin melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, tentunya dengan mematuhi ketentuan yang sudah diatur oleh undang-undang,” ucap Saruyo.

menurutnya, sebagai contoh jika ada murid yang akan ambil paket C maka calon murid wajib melampirkan ijazah smp atau sederajat. Jika murid yang akan masuk sdh pernah duduk dibangku SMA / sederajat maka murid wajib menunjukkan buku rapor.

“Itu salah satu syarat untuk bisa melanjutkan paket C, dan untuk syarat kelulusan sendiri, pihaknya mengacu kepada peraturan kementrian yang mana rapor adalah salah satu faktor penentu kelulusan, itu alasannya simurid harus memiliki buku rapor. Jadi tidak semata-mata hasil ujian yang menjadi penentu kelulusan,” tambahnya.

Ketika disinggung maraknya pungli yang mengatas namakan SKB pria berkaca mata itu mengakatan bahwa pihaknya tidak pernah melakukan pungutan dalam bentuk apapun dalam kegiatan belajar mengajar, semuanya gratis, oleh karna itu pihaknya selaku kepala SKB menghimbau kepada calon murid agar datang langsung ke sanggar.

“Jangan melalui perantara, karena tidak menutup kemungkinan ada oknum yang mengatas namakan yayasan untuk meminta sejumlah uang dengan dalil uang iuran, padahal itu hanya kenakalan oknum yang mengatas namakan sanggar demi meraup keuntungan secara sepihak. Jujur saya pribadi prihatin dengan ulah oknum yang kerap kali melakukan sayembara dengan janji “dijamin pasti lulus” supaya calon murid mau ngurus paket B ataupun paket C melalui oknum calo. Disini saya pastikan bahwa itu bukan staf kami.” urainya.

Saroyo menyempatkan diri mengajak wartawan mengunjungi salah satu ruangan dimana sedang berjalan aktivitas kursus menjahit. Peserta kursus yang mayoritas ibu rumah tangga itu mengaku puas dan nyaman dengan fasilitas yang ada. Wati (32) salah satu siswi menjelaskan dengan kursus menjahit yang rutin dilakukan mulai senin sampai sabtu itu sangat memberi manfaat bagi kalangan ekonomi lemah yang tidak memiliki biaya untuk kursus ditempat lain. Begitu juga menurut emi (30) yang merasa bersyukur dengan adanya kursus menjahit secara geratis di SKB dirinya sekarang sudah mahir menjahit berbagai macam busana dan celana, yang nantinya bisa menjadi usaha sampingan dan untuk menopang kebutuhan kleluarga.

SKB yang berdiri sejak tahun 1985 saat ini terus berusaha meningkatkan kuwalitas pelayanan pendidikan dengan menambahkan beberapa bangunan, saat mengunjungi bangunan yang masihbdalam tahap pesamasangan bata tersebut saroyo menjelaskan bangunan ini nantinya akan digunakan untuk kegiatan uji kompetensi dan bengkel otomotif.

Suhaidin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *