oleh

Kedelai Mahal, Disdagin Minta Importir Prioritaskan Pengrajin dengan Harga Terjangkau

-Ekobis, Ragam-88 views

BANDUNG, jurnalmedia.com — Langkanya tahu dan tempe dipasaran disebabkan oleh melonjaknya harga kedelai secara Nasional. Hal ini dirasakan juga oleh pengrajin tahu maupun tempe yang ada di kota Bandung.  Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung, Elly Wasliah meminta para importir kacang kedelai memprioritaskan bagi para pengrajin tahu dan tempe.

Tak hanya itu, Elly meminta agar importir memberi harga terjangkau kepada para pengrajin.

Elly mengaku telah berkomunikasi dengan Depot Kacang Indoensia, salah satu importir kacang kedelai di Kota Bandung.

Menurutnya, saat ini baru saja tiba kacang kedelai impor dari Kanada dengan harga jual Rp9.100 per kilogram.

“Barusan sudah masuk 500 ton kacang dari Kanada, sedang diturunkan. Dengan harga jual mau partai besar atau kecil itu dari importir Rp9.100 perkilo untuk per hari ini,” ucap Elly saat menyambangi pengrajin tahu Cibuntu, Senin, 4 Januari 2020.

Baca Juga  Sebanyak 70 Ahli Waris Korban Covid-19 di Kota Bandung Bakal Mendapat Santunan

Elly juga sudah meminta kepada Depot Kacang Indonesia memprioritaskan para pengrajin tahu dan tempe asal Kota Bandung.

Walau pun dari sisi kebijakan impor kacang kedelai ini ada di pemerintah pusat.

“Dia omzetnya kurang lebih 2000 ton. Dengan 1.800 ton dijual ke pengrajin di Kota Bandung, 200 ton baru di luar Kota Bandung,” ungkapnya.

Elly menyebutkan, sejak November 2020 harga kacang kedelai impor perlahan naik dari Rp8.300 per kilogram menjadi Rp8.900 perkilogram pada Desember 2020.

Kenaikan harga ini disinyalir ikut terpengaruh oleh harga kacang kedelai dunia.

Sebagian besar impornya dari Amerika Serikat dan sedikit terhambat lantaran adanya tambagan permintaan dari Tiongkok.

Baca Juga  Ribuan Relawan dari 79 Kelurahan di Kota Bandung Siap Hadang Narkoba

Menurut informasi dari Kementerian Perdagangan, sambung Elly, Tiongkok menambah kapasitas impor kacang kedelai dari Amerika Serikat menjadi dua kali lipat. Dari yang biasanya 15 juta ton menjadi 30 ton.

“Seharusnya bulan ini masuk. Kemarin diborong. Kemungkinan bulan depan, untuk mengisi kekosongan makanya mendatangkan dari Kanada,” katanya.

Elly melanjutkan, kabar terbaru stok kedelai dari Asosiasi Importir Kedelai Indonesia (Akindo) berada di kisaran 450 ribu ton.

Sedangkan kebutuhan pengrajin sesuai dari data Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) setiap bulannya menghabiskan sekitar 150-160 ton.

“Jadi sebetulnya itu masih cukup untuk 2-3 bulan. Tapi memang harga kacang kedelai dunia naik jadi berimbas kepada kita,” terangnya.

Baca Juga  Bersama BNN, Pemkot Bandung Dorong Program Bersinar

Untuk saat ini Elly sangat bersyukur akhirnya para pengrajin di Cibuntu sudah mulai memproduksi kembali tahu. Walau pun sebagai konsekuensinya kini tengah dicoba dengan menaikan harga jual.

“Setelah kami tanyakan bahwa sesuai kesepakatan harganya dinaikan, seperti ukuran tahu terkecil dari awalnya Rp325 jadi Rp400 per buah,” tutur Elly.

“Ini juga melihat respon masyarakat terhadap kenaikan harga. Karena kemarin kesepakatan naiknya antara 20-40 persen tapi dipandang terlalu tinggi. Jadi hari ini dinaikan 18 persen,” imbuhnya.

**

Komentar

Berita Lainnya