oleh

Lima Perupa Lintas institusi Gelar Pameran Relive the Mith

-Ragam-897 views

Bandung, jurnalmedia.com – Lima perupa lintas institusi usai meneliti, menggelar hasil penelitian penciptaan nya di Gedung PPK Naripan, jalan Naripan 7-9 Bandung pada hari Jumat (22/11/2019).

Pameran ini mengusung tajuk Relive the Myth. Pameran berbasis riset ini merupakan kegiatan luaran dari Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi. Sejumlah 25 karya berupa narasi visual yang mengusung cerita mitos dan legenda digelar hingga Minggu (30/11/2019).

Wakil Rektor 3, Bapak Robby Yusaac Talar, Ph.D dalam sambutannya menyampaikan bahwa pada intinya Universitas Kristen Maranatha mendukung setiap kiprah dosen-dosennya. Diharapkan pameran ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, seni dan teknologi. Pameran dibuka oleh Prof. Setiawan Sabana, seorang Guru Besar dari ITB. Sabana menyampaikan apresiasinya yang tinggi terhadap hasil karya perupa yang diawali dari penelitian ini. Harapannya semoga semua “santri-santri seni” yang tidak pernah henti-hentinya berkreasi dan “berdakwah” dapat bermanfaat untuk kemaslahatan ummat.

Andang Iskandar selaku kurator dalam pameran ini, menyampaikan bahwa Relive The Myth merupakan pameran seni rupa berbasis riset terkait reinterpretasi atas mitos yang hidup di Nusantara oleh 5 perupa perempuan :Ariesa Pandanwangi, Arleti Mochtar Apin, Ayoeningsih Dyah Woelandhary, Belinda Sukapura Dewi dan Nuning Yanti Damayanti. Berbagai aspek visual naratif tak hanya hadir dalam konvensi seni lukis sintesa, melainkan ditransformasikan pula ke dalam ungkapan multimedia, yang mempertemukan penemuan sains dan teknologi, yaitu teknologi pencitraan berupa realitas tertambah/berimbuh (Augmented Reality). Tampilan visual karya-karya ini menjadi berbeda dengan teknologi augmented reality (AR). AR dalam karya-karya kelima perupa difungsikan untuk memproyeksikan objek-objek tersebut secara real time, seolah bergerak, bersifat interaktif.

Baca Juga  Selama Pandemi Permasalahan Gizi di Kota Bandung Meningkat

Arleti Mochtar Apin, dosen dari Institut Teknologi Harapan Bangsa, menyampaikan bahwa budaya bangsa kita salah satunya adalah bahasa tutur. jadi mitos dan legenda merupakan cara berkomunikasi, ini dasar pemikiran mengangkat cerita tutur ke dalam batik. Arleti mengusung cerita Timun Mas, Guriang Tujuh, dan serial Dewi Sri.

Sedangkan Nuning Yanti Damayanti, dosen dari Institut Teknologi Bandung, yang mengusung Nyai Roro Kidul menyampaikan bahwa Roro Kidul adalah Tokoh Mitologi Nusantara yang berasal dari kepercayaan masyarakat di pulau Jawa. Mitos Roro Kidul dikaitkan dengan alam gaib sebagai penguasa pantai Selatan. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa jika sesorang ingin menjadi pemimpin wilayah Jawa dia harus menikah dengan Roro Kidul, yang saya maknai, jika seorang calon pemimpin harus mencintai tanah airnya lebih dari hal apapun selain Sang Maha Pencipta, analogi dari tanah air adalah ibu Pertiwi. Saya memaknai Roro Kidul penguasa laut sebagai Ibu Pertiwi itu sendiri, karena itu pemimpin Indonesia harus mencintai tanah air, keduanya daratan dan lautan. Hal itu yang menyebabkan saya memilih mitos Roro Kidul dalam karya batik saya. Tokoh penguasa laut yang mengajak kita mencintai selain tanah juga air (kepulauan Indonesia). Saya imajinasikan Roro Kidul adalah mitos yang cantik berkharisma meskipun dia dalam keadaan Isin (malu) dan turu (tidur) yang menjadi judul seri karya saya.

Baca Juga  PSBM, Warga Dago Bantu Pasien Isoman Penuhi Kebutuhan

Ayoeningsih Dyah Woelandhary, dosen dari Universitas Paramadina Jakarta, mengusung cerita tentang Nyai Dasime yang dibuat menjadi 5 serial. Nyai Dasima adalah salah satu kisah legenda yang keberadaanya lekat dengan masyarakat Betawi, kisah ini selalu hidup bagi masyarakat Betawi, bahkan kini ditampilkan secara lintas budaya, dalam aneka pertunjukan, kisah ini menjadi inspirasi untuk dituang dalam karya batik, yang menampilkan penggalan kisah epic dalam tragedi Nyai Dasima, demikian pungkasnya.

Belinda Sukapura Dewi, dosen dari Universitas Kristen Maranatha, menyampaikan bahwa karya-karyanya Sangkuriang dipenuhi dengan simbol-simbol, yang merupakan perumpamaan dari kejadian yang diceritakan secara turun temurun.

Sedangkan Ariesa Pandanwangi, dosen dari Universitas Kristen Maranatha, yang juga sebagai ketua peneliti dalam tim ini, mengusung 3 cerita legenda yaitu Roro Jonggrang, Nyi Rara Kidul, Situ Bagendit. Masing masing cerita dibuat menjadi dua serial. Karyanya dibuat kontroversial dari kisahnya seperti cerita yang berakhir dengan tragis ataupun kesedihan justru diberikan pewarnaan yang ceria. Untuk mempertahankan unsur kedaerahan maka diadopsi motif-motif batik yang sudah ada pada bagian sisi kain, bisa berupa tumpal, merak ngibing ataupun motif lainnya. Sekalipun dibuat dalam teknik lukis berupa coletan, tetapi unsur pola pengulangan dalam batik tetap dipertahankannya. Karya-karya yang diusung dalam cerita legenda ini memang diinterpretasi ulang kemudian dibuat dalam tampilan visual yang berbeda dengan teknologi augmented reality (AR).

Baca Juga  Guangzhou International Award, Inovasi Omaba Kota Bandung Duduki 15 Besar

Pameran yang diusung oleh kelima perupa ini memang menyajikan sebuah pengalaman yang berbeda ketika mengapresiasi karya-karya ini.

Tn

Komentar