oleh

Lolos POP Kemendikbud, Program Saung Coding Untuk Meningkatkan HOTS Siswa Dari YSIC Siap Membina Puluhan Sekolah

Kantor Yayasan Sakata Innovation Center yang mengusung Program Saung Coding Untuk Peningkatan HOTS Siswa, lolos POP Kemendikbud (Dok. YSIC)

Bandung – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Program Organisasi Penggerak (POP) akan memberikan bantuan kepada organisasi-organisasi yang bergerak di bidang pendidikan untuk dapat mengiplementasikan programnya di sekolah-sekolah mulai dari PAUD, SD-SMP di seluruh wilayah Indonesia.

Salah satu yayasan yang lolos dan mendapat bantuan tersebut adalah Yayasan Sakata Innovation Center (YSIC) melalui surat pemberitahuan hasil evaluasi proposal POP Kemendikbud, kategori Kijang. YSIC yang berdomisili di Kota Tasikmalaya ini mengusung program coding yang sudah menjadi kurikullum di Sekolah Dasar di berbagai negara maju untuk di implementasikan di sekolah-sekolah dasar di Indonesia.

‘Peningkatan HOTS (High Order Thinking Skills) melalui Program Saung Coding’ demikian judul proposal Yayasan Sakata Innovation Center sebagaimana tertera dalam surat kemendikbud tersebut.

Baca Juga  Rey Bong: Senang Menyapa Penggemar Meski Secara Virtual

YSIC yang berdiri tahun 2019 ini telah berkiprah di dunia pendidikan dengan berbagai program-program pendidikan untuk sekolah dasar sampai perguruan tinggi dan telah banyak membantu serta bekerjasama dengan berbagai instansi pendidikan seperti UNSIL, UNIBI, STT Cipasung, SD Islam Al Jamal  Tasikmalaya dan lainnya. Dengan jangka waktu tersebut maka YSIC lolos dalam POP Kemendikbud di kategori Kijang.

Metode Program Saung Coding yang ditawarkan oleh YSIC ini sebenarnya sudah banyak diimplemantasikan oleh negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, China bahkan Singapura di Sekolah Dasar bahkan Taman Kanak-Kanak. Di negara-negara maju coding sudah merupakan bagian dari kurikullum wajib SD. Kenapa demikian, itu karena berbagai manfaat yang luar biasa yang terdapat dalam pembelajaran coding tersebut mulai dari peningkatan HOTS (Higher Order Thinking Skills) dimana siswa akan diajak untuk terbiasa berfikir kearah level yang lebih tinggi yaitu menganalisis, mengevaluasi dan mencipta, jadi tidak hanya level rendah yaitu membaca, mengingat dan implementasi saja. Selain HOTS juga bisa meningkatkan Multiple Intelligences mulai dari Kecerdasan Logika-Matematika, Kecerdasan Bahasa, Kecerdasan Visual Sapasial, Kecerdasan Intrapersonal dan Kecerdasan Interpersonal, juga mengandung skill abad-21 atau skill yang dibutuhkan untuk menjadi sukses seperti Kreativitas & Inovasi, Berfikir Kritis & Problem Solving serta Kolaborasi & Komunikasi.

Deni Supriadi pengusung program Saung Coding, yang merupakan salah satu pendiri Yayasan Sakata Innovation Center (Dok. Pribadi)

Baca Juga  DWP Disdik Jabar Gelar Talkshow "Penampilan dan Etika Pergaulan dalam Berorganisasi"

Menurut YSIC kemampuan anak berbeda-beda ada yang dominan pada Logika-Matematika seperti berhitung dan menggunakan logika berfikir, ada yang dominan pada kecakapan Visual Spasial seperti jago menggambar, ada yang dominan dalam kecakapan Bahasa, ada pula yang dominan di lebih dari satu kecakapan. Perbedaan ini bisa diasah lewat coding dan bisa dikolaborasikan lewat pembelajaran coding mengingat kolaborasi adalah hal yang wajib dimiliki jika ingin menjadi manusia sukses, maka dengan coding akan terbentuk kolaborasi yang saling menguatkan satu sama lain.

Lolos menjadi ormas kategori kijang dalam POP Kemendikbud, YSIC ini akan menjalankan program Saung Coding ini di 20 SD di Kota Tasikmalaya, Banjar, Garut, Ciamis dan kota alternative lainnya, yang menurut YSIC kota-kota kecil tersebut banyak tertinggal oleh sekolah di kota-kota besar lainnya dan layak untuk ditingkatkan kualitas pendidikannya. Dalam menjalankan program tersebut YSIC mengajukan pendanaan dengan maksimal Rp. 1 miliar dan itupun hanya besaran maksimal yang bisa diperoleh.

Baca Juga  Pembelajaran di Masa Pandemi, Guru Dituntut Lebih Kreatif

“Kita mengajukan Rp. 1 miliar. Itupun hanya besaran maksimal dan belum fix, belum cair kerana belum ada SK nya,” Kata Deni Supriadi (salah satu pendiri Yayasan Sakata Innovation Center).

Komentar

Berita Lainnya