oleh

Masa AKB, Atalia: Orangtua Harus Berperan Sebagai Guru

Bandung, jurnalmedia.com – Berdasarkan kebijakan yang telah diambil Pemprov Jabar melalui Disdik Jabar, beberapa sekolah dinilai sudah siap menjalankan kembali pembelajaran tatap muka. Saat ini, ada 71 sekolah yang bisa melakukan pembelajaran tatap muka. Namun, pemerintah tetap selektif dan berhati-hati memilih sekolah-sekolah yang telah siap melaksanakan pembelajaran secara tatap muka.

Dalam hal ini, Tim Penggerak (TP) Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kelompok Kerja (Pokja) II Jawa Barat (Jabar) kembali menggelar Webinar “Pelaksanaan Kegiatan Belajar di Era AKB (Adaptasi Kebiasaan Baru)”, Selasa (25/8/2020). Hadir sebagai narasumber pada webinar tersebut, antara lain Ketua TP PKK Jabar, Atalia Praratya, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Jabar, Dedi Supendi, Kepala SMKN 9 Bandung, Anne Sukmawati serta Kepala SMAN 1 Haurgeulis Indramayu, Ambar Triwidodo.

“Karena, yang harus kita pahami di sini bahwa dalam mendidik itu pemerintah harus adil, bukan harus sama rata jumlahnya (sekolah yang dibuka),” ungkap Atalia.

Baca Juga  Kuliah via Online Ditengah Pandemi, Asmawati: Mahasiswa Harus Peduli Lingkungan Sekitar

Untuk itu, Atalia mengatakan, anggota PKK harus berperan lebih dalam mengoptimalkan peran orang tua dalam kegiatan belajar di masa pandemi saat ini. Dengan masih diberlakukannya pembelajaran dari rumah di sebagian besar sekolah, orang tua harus mampu berperan sebagai guru bagi anak di rumah. “Mengutip Bapak Pendidikan Indonesia, pendidikan yang pertama itu dilakukan oleh keluarga, lalu dibantu oleh peran guru di sekolah,” ujarnya.

Bunda Literasi tersebut pun memberi tips bagi siswa untuk menjalani hari di masa pandemi saat ini. Di antaranya, selalu menjaga pola hidup bersih dan sehat, mengonsumsi makanan bergizi, rajin melakukan aktivitas fisik, memperbaiki mood, menjaga komunikasi bersama keluarga dan sahabat serta memperdalam hobi. “Saling curhat dan saling mendengarkan juga penting. Lalu, tetap terapkan AKB dengan 3M, yakni menjaga jarak, menggunakan masker, dan mencuci tangan,” tuturnya.

Baca Juga  Kuliah via Online Ditengah Pandemi, Asmawati: Mahasiswa Harus Peduli Lingkungan Sekitar

Sementara itu, Kadisdik Jabar menjelaskan, ada 11 indikator yang harus dipenuhi sekolah untuk menjalankan protokol pembelajaran tatap muka. Di antaranya, sekolah berada di kecamatan berstatus zona hijau, mengutamakan wilayah sulit jaringan internet (blank spot), guru harus sudah menjalani swab test, dipenuhinya protokol kesehatan dan fasilitas lainnya serta telah membentuk satuan tugas (satgas) yang bekerja sama dengan puskesmas setempat. “Kesehatan dan keselamatan siswa itu yang utama. Sehingga, dalam pembelajaran tatap muka, hal tersebut harus diperhatikan dan saat ini sudah kita lakukan,” terangnya.

Ke depan, lanjut Kadisdik, pihaknya akan begegas menyosialisasikan kurikulum darurat kepada orang tua dan masyarakat sebagai bentuk penyederhanaan pembelajaran yang mengedepankan penguatan nilai serta karakter dasar Jabar Masagi. Sosialisasi tersebut nantinya beriringan dengan Focus Group Discussion di tiap zona untuk memetakan masalah pembelajaran, melakukan workshop untuk menyusun model implementasi kurikulum darurat lintas mata pelajaran (mapel) dan menyusun RPP kolaborasi lintas mapel. “Setelahnya, nanti kita akan merilis program pembiasaan harian/mingguan berbasis keluarga,” ungkapnya.

Baca Juga  Kuliah via Online Ditengah Pandemi, Asmawati: Mahasiswa Harus Peduli Lingkungan Sekitar

Sedangkan Kepala SMKN 9 Bandung, Anne Sukmawati mengatakan, pihaknya telah melakukan pembelajaran berbasis blended learning di masa pandemi ini. Beberapa indikator pun telah dipenuhi oleh sekolah, seperti pembentukan Satgas Covid-19 di lingkungan sekolah dan penyusunan SOP pembelajaran di masa Covid-19. “Penyusunan kurikulum pun berbentuk implementatif berbasis kolaboratif,” jelas Anne yang juga menjabat Plt. Kepala SMKN 11 Bandung.

Mn/Rls

Komentar

Berita Lainnya