JURNAL MEDIA, JENEWA – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli memaparkan berbagai program strategis Presiden Prabowo Subianto dalam menyiapkan tenaga kerja masa depan pada Sidang Pleno International Labour Conference (ILC) ke-114 di Jenewa, Swiss.
Dalam forum ketenagakerjaan internasional tersebut, Yassierli menegaskan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan perubahan dunia kerja yang berlangsung cepat tidak boleh membuat pekerja tertinggal. Karena itu, pemerintah menempatkan penguatan keterampilan, penciptaan lapangan kerja, serta perlindungan pekerja sebagai agenda utama dalam menghadapi masa depan dunia kerja.
“Perubahan teknologi tidak boleh membuat pekerja tertinggal. Karena itu, Indonesia menyiapkan keterampilan, memperluas peluang kerja, dan memperkuat perlindungan pekerja agar masyarakat tetap memiliki masa depan kerja yang layak,” ujar Yassierli, Selasa (9/6/2026).
Menurutnya, transformasi dunia kerja saat ini telah memengaruhi cara masyarakat bekerja, mencari pekerjaan, hingga mempertahankan posisinya di pasar tenaga kerja. Anak muda membutuhkan pengalaman kerja yang memadai, lulusan sekolah memerlukan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan industri, sementara pekerja di sektor digital dan sektor berisiko membutuhkan perlindungan yang lebih kuat.
Dalam pidatonya, Yassierli menyampaikan bahwa di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, penguatan keterampilan tenaga kerja masa depan menjadi salah satu prioritas nasional. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui Program Pemagangan Nasional bagi lulusan perguruan tinggi yang memberikan kesempatan memperoleh pengalaman kerja selama enam bulan dengan dukungan uang saku dari pemerintah.
Ia menjelaskan, Program Pemagangan Nasional telah menjangkau sekitar 100.000 peserta pada tahun lalu dan ditargetkan meningkat menjadi 150.000 peserta pada tahun ini. Selain itu, pemerintah juga menjalankan Program Pelatihan Vokasi Nasional bagi lulusan SMA dan sederajat dengan target 30.000 peserta.
“Program-program ini juga memberikan kesempatan yang setara bagi perempuan, penyandang disabilitas, serta masyarakat yang berada di wilayah terpencil dan perbatasan,” katanya.
Yassierli menegaskan bahwa penguatan keterampilan harus berjalan beriringan dengan penciptaan lapangan kerja. Oleh karena itu, pemerintah menjalankan sejumlah program strategis yang diharapkan mampu menciptakan jutaan lapangan pekerjaan baru.
Program tersebut antara lain Makan Bergizi Gratis (MBG), Kampung Nelayan Merah Putih, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, Food Estate, serta berbagai proyek hilirisasi industri.
“Penciptaan lapangan kerja menjadi bagian penting dalam memastikan masyarakat dapat menikmati manfaat pertumbuhan ekonomi sekaligus menghadapi perubahan dunia kerja,” ujarnya.
Selain penguatan keterampilan dan penciptaan kerja, Indonesia juga terus memperkuat perlindungan pekerja. Dalam kesempatan tersebut, Yassierli menyampaikan instrumen ratifikasi Konvensi International Labour Organization (ILO) Nomor 188 tentang Pekerjaan dalam Sektor Penangkapan Ikan sebagai bentuk komitmen Indonesia terhadap kerja layak, kesehatan, dan keselamatan kerja, termasuk bagi awak kapal perikanan.
Indonesia juga mencatat kemajuan dalam penyusunan kebijakan nasional bagi pekerja platform digital. Menurut Yassierli, perlindungan dan peningkatan kesejahteraan pekerja platform menjadi bagian penting dari respons pemerintah terhadap perkembangan ekonomi digital dan perubahan pola kerja.
Komitmen tersebut diperkuat melalui dialog sosial yang melibatkan pemerintah, pengusaha, dan serikat pekerja melalui Lembaga Kerja Sama Tripartit Nasional. Forum tersebut menjadi wadah pembahasan berbagai regulasi dan inisiatif bersama terkait produktivitas, keselamatan dan kesehatan kerja, serta pelatihan vokasi.
Lebih lanjut, Yassierli menyatakan kesiapan Indonesia untuk terus bekerja sama dengan ILO dan mitra internasional dalam pengembangan kurikulum pelatihan vokasi, pembangunan pusat pelatihan bagi penyandang disabilitas, serta penguatan dukungan bagi pekerja terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) dan kelompok rentan lainnya.
Dalam konteks kerja layak dan keadilan sosial global, Indonesia juga kembali menegaskan solidaritas terhadap rakyat Palestina. Pemerintah mendukung ILO Emergency Response Programme yang bertujuan memulihkan lapangan kerja, mata pencaharian, dan kelembagaan ketenagakerjaan di wilayah Arab yang diduduki.
“Indonesia siap bekerja sama dengan ILO dan seluruh pemangku kepentingan untuk memajukan kerja layak, keadilan sosial, dan kesejahteraan bersama. Bersama-sama, kita membangun masa depan kerja yang menghormati martabat pekerja,” kata Yassierli.









Komentar