oleh

Terindikasi Bocor Jantung, Anggota DPD Aceh Kunjungi Nabila Azyyati

-Lintas-293 views

Simeulue, Jurnalmedia.com – Senator Asal Aceh Tgk. H. M. Fadhil Rahmi, LC mengunjungi Balita Yang Terindikasi Bocor Jantung di Desa Sua-sua Kecamatan Teupah Tengah Kabupaten Simeulue Provinsi Aceh. (22/11/19)

Balita yang lahir pada 15 Februari 2016, anak ke-4 dari pasangan suami istri Ali Rahman-Asmani bernama Nabila Azyyati balita pederita kasus gizi buruk dan juga terindikasi bocor jantung, katarak, hingga gangguan pendengaran

Meski masih berumur tiga tahun delapan bulan, namun derita Nabila sungguh tak terperi. Karena pertumbuhannya tidak seperti balita normal lainnya.

Balita ini didera kasus gizi buruk dan juga terindikasi bocor jantung, katarak, hingga gangguan pendengaran.

Nabila juga belum bisa berjalan, layaknya bayi seusianya.

Baca Juga  Launching Benih Sorgum, Ini yang Disampaikan Ketua DPRD Lampura

“Pada bulan puasa lalu anak saya dirujuk dari RSUD Simeulue ke RSIA Banda Aceh. Selanjutnya dari RSIA dirujuk lagi ke RSUDZA,” kata Asmani, ibunda Nabila dalam perbincangan dengan Media

Menurut Asmani, selama di RSUDZA, anaknya sudah menjalani serangkaian penanganan medis, perawatan dan terapi. “Alhamdulillah ada perubahan sedikit”.

Tim medis RSUDZA juga sudah melakukan operasi katarak yang mendera kedua mata putrinya.

Nabila juga menjalani terapi saraf dua kali seminggu dan penanganan gizi.

Menurut pengakuan Asmani, Nabila juga terindikasi bocor jantung, dan telah melakukan pengobatan yang berikan oleh dokter.

Tapi sudah dua bulan obat jantung sudah berhenti karena keterbatasan biaya untuk melajutkan pengobatan ke Banda Aceh yang sebulan sekali.

Baca Juga  Banyak Jalan Rusak, Ketua DPRD Lampura: Dinas PUPR Lamban

“Karena obat jantung yang tiap bulannya dikasih oleh dokter, Nabila harus juga di periksa perkembangannya kesehatannya untuk menyesuaikan obat yang baru,” ucap sang Ibu.

Namun Asmani belum tahu bagaimana rencana penanganan lebih lanjut terhadap balitanya, karena hal biaya.

Sedangkan mengenai gangguan pendengaran, juga belum ada kemajuan karena alat bantu dengar yang ditanggung BPJS ternyata tidak merespons ketika dipasangkan ke telinga anaknya.

“Menurut informasi, alat itu harus beli sendiri. Dengar-dengar harganya mencapai Rp 80 juta. Ya Allah dari mana kami dapatkan uang sebanyak itu,” ujar Asmani.

Sedangkan suaminya, Ali Rahman pekerjaan hari-harinya seorang penggalas ikan dari hasil tangkapan nelayan, untuk kehidupan mereka yang memang tercatat sebagai keluarga miskin.

Baca Juga  Rawan Pencurian, Kades Sawojajar: Kita akan Tingkatkan Keamanan

Ditempat yang sama sebagai anggota DPD RI Fadhil akan melakukan koordinasi dengan dokter yang menangani Nabila di RSZA beberapa bulan lalu. Langkah apa untuk selanjutnya perawatan yang harus dijalani Nabila ini.

“Karena penyakit yang di derita adek ini komplek katarak, pendengaran, gizi buruk, tidak bisa bergerak seperti anak normal biasanya serta indikasi bocor jantung. Sebagaimana diceritakan orang tua Nabila.Seinggaga kita butuh kepastian medis dari dokter yang pernah menanganinya,” kata Fadhil.

Kalau memang harus pengobatannya ke jakarta RS jantung, maka ini butuh biaya. Saya akan berfikir bersama staff mencari jalan keluarnya dan berkoordinasi dengan pihak terkait.

Red

Komentar

Berita Lainnya