oleh

Tokoh Pemuda Lampung Kritisi Prosesi Adat Buang Tembakan Keudara

-Lintas, Ragam-4.360 views

Lampung Utara, Jurnalmedia.com –   Menanggapi terkait vidio yang beredar media sosial beberapa hari yang lalu tepatnya pada hari minggu (15/9/2019) ada oknum polisi yang melakukan penembakan keudara dalam prosesi adat Lampung abung pepadun ( begawi ), Rahmat Santori ( Sutan Rajo Mudo) sebagai tokoh pemuda mengaku prihatin dengan insiden itu.

“Melihat aksi buang tembakan keudara yang dilakukan saat pesta adat berlangsung dijalan Abrati Kotabumi tersebut saya pribadi sebagai putra pribumi Lampung tidak merasa heran. Karena dalam prosesi adat lampung (begawi) khususnya pepadun sering dijumpai adanya tembakan baik itu memakai jeduman, petasan bahkan jaman dahulu makai meriam,”

Menurutnya,  harusnya masyarakat umum ketahui khususnya masyarakat lampung itu sendiri bahwa tembakan keudara atau dalam bahasa lampung (timbak) itu adalah salah satu warisan atau pangkat adat seorang penyimbang lampung yang cukup sakral.

“Tembakan keudara atau dalam bahasa lampung (timbak) itupun tidak semua masyarakat lampung pepadun miliki, hanya tokoh-tokoh atau dalam bahasa lampungnya (penyimbang-penyimbang) yang mendapatkan warisan dari turun menurun atau warisan adat yang didapatkan dari pihak besan, paman dari orang tua perempuan dalam prosesi adat manjau balak begawi,” imbuhnya

Ditambahkannya, Timbak itu ada banyak macamnya ada tembakan 4 (timbak pak) ada timbak serbo buluh (tembakan yang banyak) dan lain-lain tergantung masyarakat adat tersebut miliki, biasanya itu tertulis dalam dokumen kepemilikan pakaian adat masing-masing rumah atau suku dalam lampung pepadun.

Namun pada praktiknya, mungkin harus ada yang diperhatikan seperti tempat dalam melakukan tembakan keudara baik memakai jeduman bambu, petasan, atau yang lain-lain harus diposisi yang aman dan tidak membahayakan orang lain.

“Saya mendapatkan informasi bahwa oknum polisi tersebut juga adalah bagian keluarga besar dari pemilik acara adat tersebut, mungkin saja mereka ingin berpartisipasi dalam upacara adat sembari ikut menjaga kondusifitas upacara adat yang sakral tersebut,” timpalnya.

Dalam prosesi adat lampung pepadun (begawi) pun tidak bisa dilebihkan atau mungkin dikurangi baik dalam alat-alat adat atau proses didalamnya jika yang melebihkan atau mengurangi apa yang sudah menjadi kadarnya maka akan mendapatkan sangsi-sangsi yang sudah ditetapkan dari turun menurun. Mari kita terus lestarikan adat budaya sebagai aset kearifan nusantara. Himbau santori.

Senada, Arizo Fasha gelar Kiayi Suttan Pesirah Abung. Pria yang akrab disapa Arizo mengatakan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan berlebih terkait tembakan udara dalam acara adat begawi.

“Itu memang ciri khas dalam adat budaya lampung pepadun. Jika ada juga oknum polisi yang ikut eforia dalam vidio itu sehingga melakukan prosesi timbak yang memakai senjata profesi mereka, itu hanya sebagai bentuk kebanggan dan kegembiraan berlebih terhadap keluarga yang melaksanakan begawi agung,” katanya.

Harus diingat juga melaksanakan gawi adat itu tidaklah mudah, banyak hal-hal yang harus dipersiapkan serta diterapkan. Dalam begawi adat pula adalah momentum tempat keluarga yang didalam kampung, marga dan sumbay saling berkumpul dan bahu membahu mensukseskan acara yang diyakini masyarakat lampung pepadun sangatlah sakral ini.

“Kita harus bangga jadi masyarakat lampung, dengan segala kekayaan adat yang dimilikinya Menjadi salah satu indikator besarnya bangsa indonesia,” pungkasnya.

AGUS / SUHA

Komentar