oleh

Diduga libatkan Oknum Karyawan BRI, Idin Jadi Korban Manipulasi Data Pencairan Pinjaman

Bandung, Jurnalmedia.com – Oknum Bank Rakyat Indonesia (BRI) Kantor Cabang Pembantu Unit Banceuy, Kota Bandung, diduga terlibat manipulasi data aplikasi miliik Idin (64), warga Sukamaju, Lembang, Kab. Bandung Barat, untuk pencairan pinjaman kliennya. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik Idin yang dipakai sebagai pelengkap persyaratan fotonya berbeda. Yang lebih aparah lagi, Idin selaku pemilik aplikasi tersebut tidak pernah mengajukan pinjaman dan menyerahkan data aplikasi. Akibatnya Idin beserta keluarganya selain dirugikan data aplikasi yg dipalsukan juga dicemarkan nama baiknya.

“Masa kita gak pernah mengajukan pinjaman tapi dapat tagihan, dari mana dasarnya. Kita benar benar dirugikan dan dicemarkan nama baik dianggap penunggak utang oleh tetangga. Karena bapak sering tugas ke luar kota jadi kami sering menerima surat tagihan itu dari tetangga,” sesal anak Idin, Erna (35) kepada wartawan.

Dijelaskan Erna, orang tuanya memang pernah mengajukan pinjaman ke BRI Lembang, dengan jaminan Surat Keterangan (SK) Pensiun sebagai pegawai negri sipil di Sespim Pol. Lembang namun ditolak dengan alasan usia orang tuanya tidak memungkinkan untuk mengajukan pinjaman. Sehingga saat itu juga data aplikasi langsung ditarik kembali dan diserahkan ke Bank Niaga yang memang siap untuk membantu. Ia pun heran ketika ada petuigas dari BRI datanjg ke rumahnya menagih uang angsuran pertama gak lama berselang setelah bapaknya menerima pencairan dana pinjaman dari Bank Niaga.

“Saya bingung ketika ada petugas dari BRI yang datang untuk menagih cicilan pertama dengan alasan saat pencairan tidak dipotong langsung. Petugas pun saat itu merasa bingung karena foto yang ada di KTP berbada dengan yang aslinya. Saya saat it5u langsung menjelaskan kalau bapak saya tidak pernah mengajukan pinjaman ke BRI,” ungkapnya.

Mendengar penjelasan Erna petugas BRI pun saat itu langsung balik kanan dengan alasan akan melakukan pengecekan ulang data yang ada di kantornya. Namun sebulan kemudian dan selanjutnya Idin mendapat surat tagihan pembayaran. Hal itu membuat Idin dan keluarganya geram, dan langsung melakukan klarifikasi ke BRI KCP Banceuy, sekaligus membuat pernyataan tertulis bahwa ia tidak pernah mengajukan pinjaman namun hingga bulan Juli 2017 tagihan terus datang.

“Saya heran, tagihan terus saja datang padahal bapak sudah membuat pernyataan dan datang langsung ke kantor cabang Banceuy. Makanya saya sempat datang lagi untuk melakukan klarifikasi ulang,” ujarnya.

Hasilnya, setelah melakukan klarifikasi ulang Erna kerap didatangi petugas dari BRI untuk meminta maaf sekaligus tidak memperpanjang persoalan tersebut karena tidak dirugikan secara materi. Bahkan tak hanya mendatangi rumahnya petugaspun langsung melakukan komunikasi dengan bapaknya via telepon seluler.

“Secara materi kami memang tidak dirugikan. Namun secara moril kami jelas dirugikan, karena dianggap tetangga sebagai penunggak utang ke bank. Tetangga kan tidak tahu kalau kita hanya jadi korban kecerobohan manajemen BRI.” ungkapnya seraya berharap kejadian yang menimpa keluarganya ini tidak terjadi pada orang lain.

“Kan tidak menutup kemungkinan ada korban korban lain selain kita,” pungkasnya.

Sementara itu Aris Kepala BRI KCP Banceuy mengakui pihaknya ceroboh tidak melakukan pengecekan ulang data klienya sebelum melayangkan surat penagihan. Padahal di berkas yang ada di pihaknya selain terdapat foto copy KTP beda foto ada surat pernyataan dari Idin. Ia pun berjanji akan segera mencabut dan menghentikan tagihgan terhadap Idin.

“Kami memang salah tidak melakukan pengecekan dulu sebelum melayangkan surat tagihan. Pokonya kami akan menghentikan surat tagihan terhadap Pa Idin,” kata Aris.

Tim

Komentar