JURNAL MEDIA, BANDUNG – Pemerintah Kota Bandung terus memperkuat posisinya sebagai kota ternyaman dan favorit bagi para pelari. Dalam satu tahun terakhir, berbagai event lari berskala nasional digelar secara konsisten sebagai bagian dari strategi sport tourism dan city branding.
Komitmen tersebut mulai terlihat sejak gelaran Bandung 10K pada Maret 2025. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan dukungan Pemkot terhadap agenda lari karena dampaknya langsung dirasakan sektor pariwisata dan ekonomi kota.
“Sport tourism sangat kami sambut dengan bahagia. Banyak yang memilih Kota Bandung karena suasananya nyaman, apalagi untuk event lari,” ujar Farhan.
Menurutnya, karakter Kota Bandung menjadi daya tarik tersendiri. Jalur yang rindang dan udara sejuk membuat pengalaman berlari terasa lebih nyaman.
“Paling enak lari itu di Kota Bandung. Jalannya banyak pohon, sejuk,” ucapnya.
Setelah Bandung 10K, citra Bandung sebagai kota pelari semakin menguat saat menjadi tuan rumah Pocari Sweat Run Indonesia 2025. Ajang ini diikuti 16.000 pelari yang hadir langsung di Bandung serta 30.435 pelari dari 373 kota yang berpartisipasi secara virtual. Total peserta mencapai 46.435 orang.
“Ini bagian dari city branding. Saya ingin mengklaim Bandung sebagai kota paling nyaman untuk pelari,” kata Farhan. Ia menambahkan, kenyamanan berlari di Bandung tidak hanya dirasakan saat event berlangsung, tetapi juga pada hari biasa, dengan udara sejuk hingga pagi hari.
Narasi sport tourism kemudian diperkuat melalui Soekarno Run Bandung 2025 pada 8 Juni 2025 yang diikuti 6.601 pelari. Rute yang melintasi jalan-jalan bersejarah di pusat kota menjadikan ajang ini tidak hanya olahraga, tetapi juga sarana mengenalkan nilai sejarah Bandung.
Memasuki Juli 2025, Pemkot Bandung kembali mendukung QRIS Run 2025 bersama Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat. Event ini menegaskan Bandung sebagai kota yang nyaman untuk berlari sekaligus adaptif terhadap digitalisasi.
Penguatan citra tersebut juga merambah kawasan wisata alam lewat Tahura Trail Run Race 2026 pada 24–25 Januari 2026 di Tahura Ir. H. Djuanda. Ajang ini diikuti 2.883 peserta dan mengusung konsep Running for Conservation.
Rangkaian agenda tersebut menunjukkan konsistensi Pemkot Bandung dalam menjadikan event lari sebagai penggerak sport tourism. Dari pusat kota hingga kawasan hutan kota, Bandung diposisikan sebagai ruang berlari yang nyaman, memiliki cerita, dan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat.













Komentar