JURNAL MEDIA, CIMAHI — Kemudahan teknologi digital dan paparan tren media sosial mendorong Generasi Z semakin rentan terhadap perilaku konsumtif, belanja impulsif (impulsive buying), hingga inflasi gaya hidup (lifestyle inflation). Kondisi tersebut menjadi tantangan ketika literasi keuangan hanya dipahami secara teoritis tanpa diikuti kemampuan mengelola keuangan dalam kehidupan sehari-hari.
Merespons persoalan tersebut, tim PKM Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang diprakarsai Leni Yuliyanti dan Asep Kurniawan menggelar workshop dan pendampingan bertajuk “Fin-Track SMK: Inkubasi Kecerdasan Finansial dalam Mitigasi Lifestyle Inflation melalui Manajemen Cash Flow Digital” di SMK Sangkuriang 1 Cimahi. Program yang berlangsung pada Mei hingga Agustus 2026 ini dirancang untuk membangun kebiasaan finansial sehat sejak dini.
Program Fin-Track SMK tidak hanya memberikan pemahaman mengenai literasi keuangan, tetapi juga mengajak siswa mempraktikkan pencatatan arus kas harian, mengevaluasi perilaku konsumtif, serta menyusun pengelolaan uang saku secara lebih terencana. Pelaksanaan dilakukan secara bertahap, mulai dari asesmen kebutuhan, pelatihan melalui pre-test dan post-test, hingga pendampingan serta monitoring berkala.
Kepala SMK Sangkuriang 1 Cimahi, Nasrullah Nurul Rohmat, menilai program tersebut relevan dalam membekali siswa dengan keterampilan mengelola keuangan secara efektif dan efisien, baik untuk memenuhi kebutuhan saat ini maupun sebagai persiapan menghadapi kehidupan di masa mendatang.
Hasil pelaksanaan program menunjukkan adanya perubahan positif dalam perilaku finansial siswa. Hal itu terlihat dari meningkatnya kedisiplinan dalam mencatat arus kas secara digital, kemampuan merefleksikan pola belanja, upaya menekan pengeluaran nonesensial, serta mulai membangun kebiasaan menabung.
Program tersebut menunjukkan bahwa kecerdasan finansial bukan sekadar kemampuan memahami teori, melainkan juga kemampuan mengendalikan konsumsi dan mengambil keputusan keuangan secara rasional. Dengan demikian, kemudahan teknologi digital diharapkan tidak justru mendorong Generasi Z terjebak dalam konsumerisme yang berpotensi mengganggu kondisi finansial mereka di masa depan.
Pendidikan keuangan di sekolah dinilai perlu dikembangkan secara transformatif dan aplikatif agar siswa mampu membangun kebiasaan finansial yang sehat secara mandiri.
Upaya tersebut menjadi penting untuk mempersiapkan Generasi Z menghadapi berbagai godaan konsumerisme digital, sehingga mereka tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki fondasi pengelolaan keuangan yang cerdas dan bertanggung jawab.














Komentar