JURNAL MEDIA, BANDUNG BARAT — Sartono kembali mencalonkan diri sebagai Ketua RW 23 Cilame, Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, untuk periode 2026–2031. Sebelumnya, Sartono telah menjabat sebagai Ketua RW 23 pada periode 2021–2026.
Pemilihan Ketua RW 23 Cilame saat ini mulai memasuki tahapan persiapan. Dengan wilayah yang terdiri atas 12 RT dan dihuni lebih dari 500 kepala keluarga (KK), pemilihan tersebut menjadi momentum bagi warga untuk menentukan kepemimpinan lingkungan selama lima tahun ke depan.
RW 23 Cilame merupakan kawasan perumahan yang berkembang sejak sekitar tahun 2000. Wilayah tersebut berada di Desa Cilame dan berbatasan dengan Kampung Babakan Garut, Desa Mekarsari.
Selama periode 2021–2026, Sartono bersama jajaran pengurus RW, para Ketua RT, tokoh masyarakat, tokoh agama, kader PKK, pemuda dan warga menjalankan berbagai program lingkungan serta kegiatan sosial kemasyarakatan.
Sejumlah program yang telah dilakukan antara lain vaksinasi COVID-19, pembenahan drainase dan saluran air, pembangunan serta perbaikan jembatan di RT 07 dan RT 02, hingga penataan lapangan lingkungan yang digunakan untuk kegiatan olahraga, sosial dan keagamaan.
Kegiatan kemasyarakatan juga mencakup peringatan Hari Kemerdekaan RI, pengajian, Isra Mikraj, Maulid Nabi, santunan anak yatim, Posyandu, donor darah, gotong royong serta kegiatan kepemudaan.
Dalam bidang sosial dan kemanusiaan, warga RW 23 juga melakukan penggalangan serta penyaluran bantuan bagi masyarakat terdampak bencana, termasuk korban gempa Cianjur dan longsor di Cipongkor pada 2022.
Di bidang keamanan, pengurus RW bersama para Ketua RT turut mendorong keberadaan sarana lingkungan seperti pos ronda dan tempat musyawarah warga.
“Selama lima tahun, tentu tidak semua persoalan bisa diselesaikan sekaligus. Tetapi banyak hal yang sudah kita kerjakan bersama. Apa yang sudah dicapai bukan hasil kerja saya pribadi, melainkan hasil kebersamaan seluruh pengurus dan warga RW 23,” kata Sartono.
Sejumlah Persoalan Masih Perlu Dituntaskan
Meski berbagai program telah berjalan, Sartono menyebut masih terdapat sejumlah pekerjaan lingkungan yang perlu dilanjutkan pada periode berikutnya.
Di antaranya penanganan sisi jalan yang mengalami longsor atau pengikisan tanah di wilayah RT 10, RT 12 dan RT 02. Kondisi tersebut membutuhkan penanganan agar tidak semakin meluas dan tetap menjaga keamanan akses warga.
Revitalisasi drainase di RT 02 dan RT 12 juga menjadi perhatian. Pembenahan diperlukan untuk meningkatkan fungsi saluran serta mengantisipasi genangan dan aliran air ketika hujan dengan intensitas tinggi.
Selain itu, pembangunan Posyandu RW 23 diharapkan dapat segera diselesaikan sehingga fasilitas tersebut bisa dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
Dorong Serah Terima Fasum dan Fasos
Persoalan fasilitas umum dan fasilitas sosial (fasum/fasos) menjadi salah satu agenda utama yang akan dikawal Sartono apabila kembali dipercaya memimpin RW 23.
Menurutnya, proses serah terima fasum/fasos dari pengembang kepada pemerintah daerah hingga kini masih perlu terus didorong melalui komunikasi dan pengajuan resmi kepada pihak terkait.
“Fasum dan fasos ini menjadi salah satu perhatian utama. Kita ingin ada kejelasan mengenai status dan pengelolaannya. Karena fasilitas tersebut digunakan dan dibutuhkan masyarakat, maka proses serah terimanya perlu terus kita dorong sesuai ketentuan dan kewenangan masing-masing pihak,” ujarnya.
Menurut Sartono, kepastian status fasum/fasos akan memudahkan koordinasi dalam penataan, pemeliharaan dan pengembangan fasilitas lingkungan.
Usung Gagasan RW 23 HEBAT
Untuk periode 2026–2031, Sartono membawa gagasan “Menuju RW 23 yang HEBAT”. HEBAT merupakan akronim dari Harmonis, Empati, Bersatu, Amanah dan Tulus.
Gagasan tersebut diarahkan untuk membangun lingkungan RW 23 yang lebih maju, aman, nyaman, tertata dan sejahtera melalui kebersamaan serta pemberdayaan masyarakat.
Sejumlah agenda yang menjadi perhatian meliputi pembenahan drainase, penanganan longsor dan turap, penyelesaian pembangunan Posyandu, pengembangan sarana lingkungan, penataan fasum/fasos serta penguatan kegiatan sosial, keagamaan, kepemudaan dan kemasyarakatan.
“Kalau nanti masyarakat kembali memberikan kepercayaan, saya ingin melanjutkan pekerjaan yang belum selesai. Yang sudah baik kita pertahankan, yang masih kurang kita perbaiki, dan persoalan yang belum mendapatkan penyelesaian akan kita perjuangkan bersama melalui jalur dan mekanisme yang berlaku,” katanya.
Sartono juga menekankan pentingnya menjaga suasana kondusif selama proses pemilihan. Menurutnya, perbedaan pilihan merupakan bagian dari proses demokrasi di lingkungan masyarakat dan tidak boleh memecah persatuan warga.
“Pada akhirnya, kita semua tetap satu keluarga besar RW 23. Perbedaan pilihan dalam pemilihan adalah hal yang wajar. Yang terpenting setelah pemilihan adalah bagaimana kita kembali bersatu dan bersama-sama membangun lingkungan,” ujarnya.
Dalam pencalonannya, Sartono membawa tiga prinsip, yakni “Berani Menyelesaikan, Jalankan Amanah, Nyata Bekerja.” Sementara gagasan besarnya adalah “Menuju RW 23 yang HEBAT: Harmonis, Empati, Bersatu, Amanah dan Tulus.”
Pemilihan Ketua RW 23 Cilame periode 2026–2031 selanjutnya akan dilaksanakan sesuai tahapan dan mekanisme yang ditetapkan panitia pemilihan dengan melibatkan unsur masyarakat RW 23.













Komentar