oleh

Susanto Triyogo: Pemuda Harus Jadi Solusi, Bukan Sekadar Penonton Perubahan

JURNALMEDIA, BANDUNG – Sekretaris Komisi I DPRD Kota Bandung, Susanto Triyogo Adiputro, mengajak generasi muda untuk kembali menempatkan Pancasila sebagai pedoman utama dalam menghadapi berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks.

Menurutnya, peringatan Hari Lahir Pancasila bukan sekadar mengenang sejarah lahirnya dasar negara pada 1 Juni 1945, tetapi menjadi momentum refleksi untuk memastikan nilai-nilai Pancasila tetap hidup dan relevan dalam kehidupan berbangsa, terutama bagi generasi muda yang akan menentukan masa depan Indonesia.

“Di tengah derasnya globalisasi dan perkembangan teknologi, Pancasila harus tetap menjadi kompas yang menjaga arah perjalanan bangsa. Kemajuan tidak boleh membuat kita kehilangan identitas, moralitas, dan rasa keadilan,” ujar Susanto dalam catatan refleksinya memperingati Hari Lahir Pancasila.

Ia menilai Indonesia saat ini sedang berada pada momentum penting dengan hadirnya bonus demografi, di mana mayoritas penduduk berada pada usia produktif. Kondisi tersebut merupakan peluang besar yang dapat mengantarkan Indonesia menjadi negara maju apabila mampu dikelola dengan baik.

Namun, Susanto mengingatkan bahwa bonus demografi tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan. Tanpa kualitas sumber daya manusia yang unggul dan kepemimpinan yang kuat, peluang tersebut justru dapat berubah menjadi beban pembangunan.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini jauh berbeda dibanding generasi pendiri bangsa. Jika dahulu ancaman datang dalam bentuk penjajahan fisik, kini tantangan hadir melalui krisis identitas, polarisasi sosial, disinformasi digital, budaya instan, hingga melemahnya semangat gotong royong.

“Kita hidup di era ketika media sosial dapat menjadi alat pemersatu sekaligus pemecah belah. Karena itu, nilai-nilai Pancasila harus hadir sebagai fondasi dalam menyikapi setiap perubahan,” katanya.

Susanto menjelaskan bahwa setiap sila dalam Pancasila memiliki relevansi yang sangat kuat dalam menjawab persoalan bangsa saat ini. Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi landasan moral dalam kehidupan publik, kemanusiaan menegaskan pentingnya penghormatan terhadap martabat manusia, sementara persatuan menjadi fondasi menjaga kebhinekaan Indonesia.

Adapun sila kerakyatan menjadi pedoman dalam membangun demokrasi yang berkeadaban, sedangkan keadilan sosial harus menjadi tujuan utama setiap kebijakan pembangunan.

Dalam pandangannya, terdapat tiga tantangan besar yang sedang dihadapi Indonesia, yakni menjaga identitas kebangsaan di tengah pengaruh global, memperkuat kualitas demokrasi, serta mewujudkan keadilan sosial yang dapat dirasakan seluruh masyarakat.

“Tiga agenda besar tersebut sesungguhnya merupakan implementasi nyata dari nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Susanto juga menyoroti pentingnya momentum menuju 100 Tahun Sumpah Pemuda pada 2028 dan Indonesia Emas 2045. Menurutnya, semangat persatuan yang dahulu diperjuangkan para pemuda harus kembali dihidupkan dalam konteks kekinian, termasuk di ruang digital yang kini menjadi bagian penting kehidupan masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi ruang ekspresi pribadi, tetapi juga ruang kebangsaan yang ikut menentukan kualitas persatuan bangsa.

Untuk menghadapi masa depan, generasi muda perlu membangun empat modal utama, yakni intelektualitas, integritas, kapasitas sosial, dan kepemimpinan. Keempat aspek tersebut menjadi fondasi penting dalam menciptakan generasi yang mampu membawa Indonesia menjadi negara maju sekaligus bermartabat.

Menurutnya, berbagai persoalan seperti korupsi, kesenjangan ekonomi, polarisasi politik, disinformasi digital, hingga krisis iklim membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda sebagai bagian dari solusi.

“Pemuda tidak cukup hanya menjadi penonton atau pengkritik. Mereka harus hadir, terlibat, dan mengambil peran dalam politik, gerakan sosial, pendidikan, maupun pembangunan kebudayaan,” tegasnya.

Menutup refleksinya, Susanto menegaskan bahwa masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh keadaan, melainkan oleh kualitas generasi yang mengisinya. Karena itu, Pancasila harus terus menjadi pedoman dalam setiap langkah pembangunan bangsa.

“Dua tahun menuju satu abad Sumpah Pemuda dan kurang dari dua dekade menuju Indonesia Emas 2045. Sejarah sedang menunggu kontribusi terbaik generasi muda Indonesia. Pancasila harus tetap menjadi kompas yang menuntun langkah kita menuju Indonesia yang maju, berkeadilan, dan bermartabat,” pungkasnya.

Komentar